Hoegeng, Sang Polisi yang Tidak Bisa disuap Karena Kejujurannya

Hoegeng, dengan nama lengkap Hoegeng Iman Santoso adalah nama yang pernah disebut Gus Dur sebagai polisi yang tidak bisa disuap. Siapakah dia?.

Ia seorang polisi dari Pekalongan. Ayahnya seorang jaksa dan berteman akrab dengan kepala polisi bernama Ating. Berkat keteladanan dari dua orang inilah Hoegeng bercita-cita menjadi polisi untuk menegakkan keadilan.

Setelah lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 1952, Jaksa Agung Soeprapto mempercayainya untuk bertugas di Medan dimana marak terjadi penyelundupan. Begitu turun di pelabuhan Medan (1956), seseorang mendekatinya dan mengaku “ketua panitia penyambutan”, mengatakan bahwa mobil dan rumah untuk Hoegeng sudah disiapkan. Hoegeng tahu itu gratifikasi dari seorang pengusaha Tionghoa, maka ia menolaknya mentah-mentah.

Pengusaha Tionghoa ini tidak menyerah, tahu Hoegeng akan pindah ke rumah dinas, tempat itu ia penuhi perabotan yang lengkap dan mahal. Ketika Hoegeng tiba, ia marah dan meminta barang itu diambil kembali tapi pengusaha tersebut tidak melakukannya. Barang-barang itu akhirnya ia lemparkan ke pinggir jalan.

Hoegeng pernah diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (1961), Menteri Iuran Negara (1965), dan Sekretaris kabinet (1966), sebelum akhirnya menjadi Kepala Polisi pada masa transisi di 15 Mei 1968. 

Pada masa-masa inilah kiprah Hoegeng cukup menonjol, ia merekomendasikan pemakaian helm dan menangani kasus-kasus besar seperti Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah.

Kasus terakhir cukup sulit karena si penyelundup adalah pengusaha Tionghoa bernama Robby Tjahyadi alias Sie Tjie It, yang dekat dengan Soeharto. Bahkan pada September 1971, Hoegeng melihat sendiri Robby keluar dari ruangan Soeharto. Sebulan kemudian, Hoegeng ditawari jabatan Dubes oleh Soeharto namun Hoegeng menolak dan meminta ditugaskan di Indonesia saja. Soeharto mengatakan, 'tidak ada lowongan untuk anda lagi disini'. Maka Hoegeng pun langsung mengundurkan diri.